Satriyanugraha’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Sejarah dan Aplikasi Corporate Social Responsibility di Indonesia

Posted by satriyanugraha pada September 2, 2008

Oleh : Satriya Nugraha, SP

satriya_fp2000@yahoo.co.uk

Mantan Presiden BEM Fakultas Pertanian Unibraw 2000-2002

Konsultan Muda Agroindustri, Pertanian Organik dan Evaluasi Lahan

 

            Definisi Corporate Social Responsibility versi Indonesia sering diartikan sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau ”Tanggung Jawab Sosial Dunia Usaha”. CSR dapat diartikan juga tindakan yang timbul dari beberapa tindakan sosial yang baik, di luar minat perusahaan yang dilakukan dengan hukum (McWilliam dan Siegal : 2001). Beberapa isu yang berkaitan dengan konsep dan penerapan CSR ini adalah isu Sustainable Development, Good Corporate Governance (GCG), Protokol Kyoto, Millenium Development Goals, dan Triple Bottom Line. Pemerintah juga mengatur CSR ini  dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Berdasarkan UU tersebut, Bab V  Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, pasal 74 ayat (1) disebutkan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Hubungan CSR dengan Sustainable Development

            Pembangunan berkelanjutan biasa diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Di Indonesia, pembangunan berkelanjutan menjadi masalah yang rumit. Diperlukan pergeseran paradigma yang bersifat parsial-fragmentatik menjadi paradigma holistik-integratif. Perubahan paradigma ini masih sangat jarang dilakukan, terlebih di era otonomi karena kemungkinan akan berdampak melambatnya pertumbuhan ekonomi, tetapi kerusakan sumber daya alam bisa berkurang perlahan-lahan. Umumnya, pemerintah daerah hanya berpikir bagaimana bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di berbagai bidang khususnya bidang dunia usaha, urusan belakang tentang soal dampak lingkungan.

Hubungan CSR dengan Good Corporate Governance

Dalam keadaan yang bersaing ketat memperebutkan pasar demi meraih keuntungan semaksimal mungkin, tentu mudah terjadi pelanggaran etika bisnis. Untuk itulah, diperlukan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Institusi-institusi global seperti IMF, World Bank, APEC, OECD dan ADB turut menjadi pelopor untuk memotivasi implementasi GCG secara konsisten di dunia usaha. Dorongan terhadap derasnya isu GCG ini diduga dilatarbelakangi beberapa permasalahan, yaitu berawal dari krisis finansial yang terjadi di berbagai belahan dunia, mulai krisis Meksiko (1995) dan krisis Thailand (1997) yang kemudian menjadi krisis finansial Asia termasuk Indonesia.

Hubungan CSR dengan Protokol Kyoto dan Global Warming

             Selama ini, kita memahami kalau perubahan iklim merupakan peristiwa alamiah. Salah satu indikator perubahan iklim adalah peningkatan suhu bumi. Bila ditelusuri, pertumbuhan penduduk dan konsumsi energi fosil secara besar-besaran sejak adanya revolusi industri telah menjadi pemicu terjadinya pemanasan global (global warming). Saat ini, efek domino dari revolusi industri dan hasilnya berupa gas rumah kaca sudah berimbas kepada masyarakat, salah satunya perubahan iklim yang sulit diprediksi. Petani merasa kebingungan untuk mengatur pola tanam, karena prediksi pengetahuan lokal kini tidak lagi memadai.

            Menyadari beberapa permasalahan di atas, tahun 1992, KTT Bumi di Rio de Janeiro, para pemimpin negara menyepakati beberapa komitmen salah satunya komitmen untuk menekan laju pemanasan global dan perubahan iklim dengan menandatangani Konvensi PBB Untuk Perubahan Iklim (United Nation Framework Convention on Climate Change, UNFCCC). Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut, pertemuan rutin para pihak UNFCCC (Conference of the Parties) akhirnya digelar setiap tahun. Yang paling monumental dari COP adalah COP III yang diadakan pada Desember 1997 di Kyoto, Jepang. Pada pertemuan ini digagas sebuah protokol yang dikenal dengan Protokol Kyoto dan terbuka untuk ditandatangani dari tanggal 16 Maret 1998 sampai dengan 15 Maret 1999 di Markas Besar PBB, New York.

            Protokol ini akan berkekuatan hukum 90 hari setelah diratifikasi sedikitnya oleh 55 negara dan harus mewakili 55 % total emisi negara-negara maju atau biasa disebut dengan negara-negara Annex I. Melalui protokol ini, negara Annex I yaitu negara-negara yang mengeksploitasi sumber daya alam lebih dahulu, diwajibkan secara hukum untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang terdiri dari : CO2, CH4, N2O, HFCS, PFCS dan SF6, minimal 5,25 % dari tingkat emisi tahun 1990, selama tahun 2008 sampai tahun 2012, yang merupakan kewajiban periode komitmen I.

            Setelah melewati masa yang cukup panjang sejak tahun 1997, Protokol Kyoto akhirnya resmi berkekuatan hukum secara internasional tepat pada 16 Februari 2005. Meskipun tanpa Amerika Serikat, yang juga merupakan kontributor emisi terbesar dunia, keberhasilan ini menunjukkan bahwa komunitas Internasional menyadari bahwa perubahan iklim merupakan masalah global yang harus ditangani bersama. Protokol ini resmi berkekuatan hukum tepat 90 hari setelah kedua persyaratannya terpenuhi. Satu persyaratan diantaranya adalah Protokol Kyoto telah diratifikasi oleh minimal 55 negara dan Rusia merupakann negara ke 55 yang secara resmi meratifikasi Protokol Kyoto pada 18 November 2004. Indonesia akhirnya meratifikasi Protokol Kyoto pada 3 Desember 2004, melalui UU Nomor 17 Tahun 2004.

Hubungan CSR dengan Triple Bottom Line

            Istilah Triple Bottom Line dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya ”Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century”. Elkington mengembangkan konsep TBL dalam istilah economic prosperity, enviromental quality dan social justice. Elkington memberikan pandangan bahwa perusahaan yang inginn berkelanjutan haruslah memperhatikan “3P” yaitu selain mengejar profit, harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet).

Pandangan Dunia Usaha Terhadap CSR di Indonesia

            Ada satu pertanyaan mendasar yaitu “Motivasi apa yang melatarbelakangi kalangan dunia usaha / perseroan terbatas dalam menerima konsep CSR?. Menurut Yusuf Wibisono, dalam bukunya “Membedah Konsep dan Aplikasi CSR” mengatakan bahwa ada 3 (tiga) kategori perusahaan dalam menerapkan CSR di Indonesia. Pertama, sekedar basa-basi dan keterpaksaan. Artinya CSR dipraktekkan karena faktor eksternal (external driven). Juga karena reputation driven. Yang masih hangat dalam ingatan kita, misalnya saat bencana tsunami di Aceh dan Sumut terjadi. Korporasi besar dan kecil seperti dikomando untuk berebut memberikan bantuan uang, medis, sembako dan lain-lain. Kemudian perusahaan berlomba-lomba menginformasikan kontribusinya melalui media massa.

 

 

Kedua, sebagai upaya untuk memenuhi kewajiban (compliance). CSR dipraktekkan karena memang ada regulasi, hukum dan aturan yang memaksanya. Misalnya karena adanya market driven. Artinya kesadaran betapa pentingnya menerapkan CSR yang menjadi tren seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial. Misalnya pengusaha-pengusaha Amerika Serikat sudah semakin keras dengan produk furniture yang datang dari Indonesia. Karena, produk tersebut diharuskan menerapkan ecolabelling , suatu tanda bukti bahwa kayunya diambil secara bijaksanan dengan memperhatikan lingkungan, seperti tidak menebang kayu seenaknya tanpa upaya peremajaan.

Ketiga, bukan lagi sekedar compliance tapi beyond compliance. CSR dipraktekkan karena memang ada dorongan yang tulus dari dalam (internal driven). Perusahaan meyakini bahwa program CSR merupakan investasi demi pertumbuhan dan keberlanjutan usaha. Dengan demikian, CSR bukan lagi sekedar aktifitas tempelan yang kalau terpaksa bisa dikorbankan demi mencapai efisiensi, namun CSR merupakan nyawa korporasi. CSR disikapi secara strategis dengan melakukan alignment antara inisiatif CSR dengan strategi korporasi.

Kesimpulan

CSR memiliki peranan penting dalam melanjutkan kinerja perusahaan secara berkelanjutan karena perusahaan yang melakukan dan mempunyai tanggung jawab sosial serta lingkungan akan dikenal baik oleh stakeholder. Jika produk-produk perusahaan yang menerapkan CSR dikenal oleh masyarakat, maka masyarakat akan selalu mengingat dan akan membeli produk-produk tersebut. Hal ini akan meningkatkan penjualan perusahaan dan memberikan keuntungan berkelanjutan. CSR dapat meningkatkan reputasi perusahaan dimana masyarakat akan menghargai perusahaan tersebut dengan terus menyediakan sumber daya kepada perusahaan. Hubungan timbal balik antara perusahaan dan masyarakat akan melestarikan kelangsungan hidup perusahaan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: